Avatarphoria

Apakah Avatar Layak Menang Golden Globe 2010?

Minggu ini Avatar telah dinobatkan sebagai best motion picture untuk kategori drama di ajang Golden Globe Awards 2010 (selanjutnya akan disingkat Golden Globe). Mengejutkan? Mungkin tidak. Sebagian besar telah memprediksi hal ini berdasarkan sambutan para penonton, review bagus dari kritikus, dan penjualan tiket yang menjebol rekor box office. Namun apakah hal ini cukup sebagai modal untuk memenangi kategori paling bergengsi di Golden Globe?

Secara tepat, formula dan persyaratan apakah untuk memenangi kategori ini? Persyaratan utama adalah script yang cerdas, permainan aktor/aktris yang handal, editing tajam, dan sutradara kelas satu. Faktor pendukung seperti music scores yang memorable, sinematografi memukau, dan penggunaan teknologi tinggi. Besarnya budget seharusnya sama sekali bukan faktor yang signifikan untuk kategori ini. Karena film drama niscaya menempatkan script sebagai pondasi film.

Avatar lemah dari sisi script (akan dibahas pada paragraf di bawah) dan permainan aktor/aktris yang biasa-biasa saja. Jangan keliru, saya menikmati Avatar. Sebagai tontonan memang menyenangkan. That’s it. Rasanya agak berlebihan menempatkan Avatar sebagai film drama terbaik 2010 versi Golden Globe Awards.

Hal yang menarik, Roger Ebert, kritikus film kenamaan, menyebut Avatar sebagai “ extraordinary” dengan menyematkan 4 bintang (nilai maksimal) diimbuhi kalimat “Sewaktu menonton Avatar teringat perasaan yang  mirip dengan menonton Star Wars di tahun 1977”. Apakah kritikus pun mengalami Avatarphoria? Apakah ini efek euphoria dari film ber-budget US $300 juta? Ini saya rasa juga berlebihan. Saya cenderung menyamakan efek Star Wars dengan The Lord of The Rings (2001). Itu baru sepadan.

Mari menilik dari segi script. Plot berkisar pada misi Jake Sully untuk meneliti suku Na’vi. Di tengah cerita ia mulai bimbang pada misinya yang semula. Ia memutuskan ‘berkhianat’ dan bergabung dengan suku Na’vi untuk berjuang melawan keserakahan perusahaan pertambangan yang mengirimnya dahulu. Yup, as simple as that. Dibumbui dengan hal-hal standar seperti,

  • Jake yang jatuh cinta pada gadis Na’vi anak sang kepala suku
  • Figur kepala suku bijaksana yang rela mati berkorban untuk rakyatnya
  • Dukun yang mendukung teori the chosen one (hello… The Matrix..?!!) yang akan menyelamatkan kehidupan
  • Oknum suku Na’vi yang pada awalnya tidak suka terhadap Jake namun kemudian berbalik menjadi pendukung setia
  • Karakter ilmuwan yang jenius
  • Karakter villain di pihak perusahaan yang sangat tradisional hitam putih (bukan abu-abu)
  • Jake yang mati dan bangkit kembali

Plotnya sangat mirip dengan Dances with Wolves (1990) yang dibintangi Kevin Costner yang bersetting di Amerika Serikat sewaktu Perang Saudara berkecamuk. Lt. John Dunbar ditugaskan menjaga sebuah pos perbatasan. Interaksinya dengan suku Sioux di daerah tersebut membuatnya bersimpati dan berbalik menjadi pembela Suku Sioux terhadap kesewenangan yang dilakukan tentara berkulit putih. Ditambah lagi ia jatuh cinta dengan anak gadis dari dukun suku Sioux. Lalu ada lelaki dari suku Sioux yang pada awalnya tidak suka terhadap Dunbar namun mereka akhirnya menjadi sahabat. Kemudian mereka bahu membahu berjuang melawan penindasan orang kulit putih.

Bagaimana kemiripannya? Pasti cuma kebetulan kan?  😀 Hal yang menyesakkan di sini adalah Avatar mengalahkan film-film nominee lainnya yang saya yakin lebih kuat dari sisi script. Saya belum menonton Precious: Based on the novel Push by Sapphire dan Up In The Air, tapi saya yakin keduanya memiliki bobot drama yang lebih kental daripada Avatar. Namun saya telah menyimak The Hurt Locker dan Inglourious Basterds. The Hurt Locker menceritakan tentang kehidupan tentara AS penjinak bom yang ditempatkan di Irak. Ini bukan film action perang. Lebih menyoroti sisi drama dan psikologis karakter-karakter di dalamnya. Plotnya agak datar namun kuat dari sisi pemain dan cerita.  Harapan saya sebenarnya pada Inglourious Basterds (IB). Ibarat menu makanan IB punya rasa komplet. Semua formula yang telah disebutkan di paragraf awal, kecuali budget raksasa, telah dipenuhi oleh IB. Anda akan mendapatkan semua yang bisa diharapkan dari sebuah film drama berkualitas yang masuk nominasi Golden Globe.

Maybe this time we agree to disagree. That’s just my opinion. Pada akhirnya selamat buat Avatar yang telah dinobatkan menjadi pemenang Golden Globe Awards 2010.

Sampai bertemu di Academy Awards 2010. Mudah-mudahan hasilnya lebih menarik.

Advertisements

2 responses to “Avatarphoria

  1. akh!!! keduluan…!!! :p
    tapi opini gw mengenai avatarphoria sudah tersampaikan dengan baik lewat postingan ini 😉

    oya selain Dances With Wolves, tentu yg lebih klasik lg referensi ceritanya adalah Pocahontas 😀

    ‘…Saya cenderung menyamakan efek Star Wars dengan The Lord of The Rings (2001). ‘
    couldn’t agree more. StarWars punya twist, LOTR punya karakter yg menarik *Gollum*.
    Avatar? emmm…other than special FX, i couldn’t think any other. :p
    well they’re good, but…not that extravagant in storytelling.

    Mudah2an Oscar ga latah avatarphoria jg ya,
    *kecuali utk kategori spc FX ya sudahlah yaaaaa…:p hehehe*

    cheers

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s