Edge of Darkness (2010)

Sebelum menonton film ini yang terbayang plotnya akan mirip dengan Payback (1999) yang bertema revenge movie yang juga dibintangi oleh Mel Gibson atau Death Wish-nya(1974) Charles Bronson. Well, they’re not exactly the same, walaupun ada kemiripan dalam hal unsur vigilante. Edge of Darkness adalah comeback Mel Gibson sebagai pemeran utama di layar lebar sejak Signs (2002). Di film ini Gibson berperan sebagai Thomas Craven, seorang veteran polisi di Boston. Kisah dimulai ketika anak perempuan Craven yang berusia 24 tahun, Emma (Bojana Novakovic), ditembak di teras rumahnya.

Semula polisi mengira Emma merupakan korban salah sasaran dari para penjahat yang mengincar ayahnya. Namun penyelidikan Craven menunjukkan bahwa Emma memang target yang dituju dan ternyata banyak tangan-tangan tak terlihat yang ikut terlibat. Pihak-pihak yang terlibat melingkupi kekuatan ekonomi dan kekuasaan politik. Craven kerap menemui jalan buntu karena banyak pihak yang tidak mau bersaksi karena sudah ‘dibeli’ atau merasa takut nyawa mereka terancam. Namun Craven yang menyebut dirinya sendiri “I’ve got nothing to lose”, berusaha dengan segala upaya untuk membongkar misteri pembunuhan anaknya walaupun mati taruhannya.

Martin Campbell menjadi nahkoda Edge of Darkness. Filmografinya antara lain Goldeneye, The Mask of Zorro, Legend of Zorro, Vertical Limit, Casino Royale, dan the upcoming Green Lantern (yippie..!!). Campbell tahu kapan waktu untuk meningkatkan adrenalin penonton dan kapan harus mengendorkan tensi lewat adegan mengharukan. Yup, saat menonton film ini muncul adegan action mendebarkan dan mungkin membuat kita menahan napas atau malah menjerit. Pada adegan selanjutnya Campbell dapat menuntun kita menuju pojok hangat yang sentimental. Pergantian setiap adegan bisa dinikmati dan berlangsung mulus. Jangan khawatir dengan muatan intrik politik dan keruwetan sistem ekonomi kapitalis di film ini. Jika mencari 2 hal tersebut dalam skala yang lebih besar, saya merekomendasikan The International (2009) yang dibintangi Clive Owen, yang mengisahkan jaringan perusahaan multinasional yang ‘bermain’ dan menguasai peta politik dan perekonomian dunia.

Mel Gibson melakoni peran ayah yang berprofesi polisi ini dengan sangat menjiwai. Lihat sinar matanya ketika mengenang almarhumah putrinya. Ada rasa sepi, kehilangan, dan sedih yang mendalam. Namun perhatikan ekspresi wajahnya ketika ia berhadapan dengan bad guys. Matanya nyalang berapi-api memancarkan amarah dan dendam yang meluap-luap.

Edge of Darkness merupakan film yang mendedikasikan secara utuh kasih sayang seorang ayah kepada putrinya. Tidak ada tempat tersisa untuk sang ibu. Dalam ceritanya pun sama sekali tidak disinggung mengenai sang ibu. Rasanya film ini cocok diputar saat Father’s Day (sayang di Indonesia ga ada ya… 😀 ).

Lost in the moment of what he needs
Lost in the moment of what he needs
Are you there?

Can you hear me?
Are you there?

“Lost in the Moments” Edie Brickell

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s