From Paris with Love (2010)

Under the lights where we stand tall
Nobody touches us at all
Showdown, shootout, spread fear within, without

We’re gonna take what’s ours to have
Spread the word throughout the land
They say the bad guys wear black
We’re tagged and can’t turn back

You see us comin’
And you all together
Run for cover

We’re takin over this town

“Cowboys from Hell” Pantera

Kalau hanya membaca judul tanpa melihat poster From Paris with Love mungkin mengira film ini masuk ke dalam genre drama romantis. Apalagi tanggal release-nya yang mendekati momen Valentine’s day. Judul yang ‘menipu’ ini dipatahkan lewat posternya yang memperlihatkan para pemerannya dalam adegan full action.

Awal film dimulai dengan pengenalan karakter James Reece (Jonathan Rhys Meyers dengan kumis tipis yang membuat saya berpikir apakah ia terkontaminasi udara Paris, sehingga sok-sokan memelihara kumis seperti itu agar terlihat romantis?) sebagai pegawai Kedubes Amerika Serikat (AS) di Perancis yang berlangsung selama 15 menit pertama terasa agak membosankan.

Namun begitu sosok Charlie Wax (John Travolta dengan kepala plontos dan berewokan) muncul,

BLAAAAAMMM!!

He unleashes hell!! Wax adalah agen rahasia yang ditugaskan oleh pemerintah AS untuk menyelidiki kasus obat bius dan terorisme  di Paris dan Reece diperintahkan untuk mendukung segala kegiatan Wax.

Metode kerja Wax ternyata nyeleneh dan tidak konvensional. Baru mendarat di Paris dia sudah menciptakan keonaran dengan pihak bea cukai. Cara Wax yang bergaya koboi dengan main tembak di sana sini  dan pukul dulu tanya belakangan (nampaknya ini sindiran terhadap AS yang mengaku sebagai polisi dunia) tentu saja membuat Reese sport jantung. Di sisi lain ternyata metode ini lumayan efektif untuk menelusuri jejak teroris dan perdagangan kokain.

Hal yang sedikit mengganggu para teroris dan pedagang kokain digambarkan sebagai imigran dari Cina, kulit hitam, dan Arab. Kenapa masih stereotype begini ya?

Film yang diproduseri Luc Besson ini memang menyajikan action sebagai menu utamanya. Tembak-tembakan, kebut-kebutan mobil, pertarungan dengan tangan kosong, adegan pengejaran di atap gedung, ledakan dahsyat, semuanya ada di sini dan dalam porsi yang pas. Akting Travolta sebagai karakter anti-hero lumayan meyakinkan dan mendominasi sepanjang film.

Hal menarik dalam salah satu scene ada dialog yang bisa dibilang tribute buat Pulp Fiction (1994) yang diperani dengan sangat sukses oleh John Travolta.

Dialognya kurang lebih seperti ini:

Wax: “Setiap orang pasti punya kelemahan”

Reese: “Kalau orang seperti lo emang punya kelemahan?”

Wax: “Iya, ada (sambil mengeluarkan sesuatu dari dalam kantong kertas berwarna coklat).

Wax: “Royale with Cheese

Nice tribute I think. 🙂

Anyway, would I recommend this movie? Kalau Anda butuh film action untuk melepas stress atau untuk ditonton beramai-ramai bersama teman-teman film ini cocok sekali. Yah, sedikit banyak mirip seperti The Transporter (2002) yang juga diproduseri oleh Luc Besson.

Wax off, wax on! 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s