Up in the Air (2009)

I’d say you make a perfect
Angel in the snow
All crushed out on the way you are
Better stop before it goes to far
Don’t you know that I love you
Sometimes I feel like only a cold still life
That fell down here to lay beside you

Don’t you know that I love you
Sometimes I feel like only a cold still life
Only a frozen still life
That fell down here to lay beside you

“Angel in the Snow” Elliott Smith

Last week I sensed a funny weird feeling when I watched Up in the Air (2009) in the cinema. Terakhir kali mengalami perasaan ini adalah waktu menonton Lost in Translation (2003). Perasaan merinding yang membuat saya bergumam sepanjang film ini diputar, “Wow, this is an awesome f**king movie..!!” Jason Reitman, sang sutradara, resmi menjadi sosok yang patut saya perhitungkan. Film-film sebelumnya seperti Thank You for Smoking (2005) dan Juno (2007) juga sangat memuaskan secara kualitas dan memiliki tema yang unik. Up in the Air juga memiliki elemen seperti 2 film yang saya tulis di atas.

George Clooney adalah Ryan Bingham, seorang pekerja kantoran usia 40-an yang berkarakter good-looking, charming, supel, sedikit egois, anti komitmen, dan tidak ingin punya anak. Hmm… pretty much like Clooney himself… 😀

Bingham berprofesi  sebagai seorang yang ditugaskan untuk memecat karyawan di suatu perusahaan. Bingham tidak mengenal karyawan yang akan dipecat. Dia menjalankan tugas tersebut atas nama bos perusahaan yang terlalu pengecut untuk memecat karyawannya. Dalam menjalankan tugas ini, Bingham harus melakukan perjalanan  ke seluruh penjuru negara bagian Amerika Serikat sepanjang tahun. Bingham sangat menyukai pekerjaannya. Ia bahkan menganggap semua bandara yang disinggahinya sebagai “rumah” dan merasa hampa ketika ia pulang selama beberapa hari ke apartemen-satu-kamarnya di Omaha. Ia ingin segera kembali terbang naik pesawat sehingga bisa “pulang ke rumah”. Di samping itu ia menyimpan ambisi untuk menjadi segelintir penumpang pesawat yang akan berhasil meraih “10 juta mil”.

Suatu ketika di bar hotel bandara, ia berkenalan dengan Alex Goran (Vera Farmiga), seorang perempuan pekerja kantoran yang juga sering melakukan travelling business. Keduanya langsung merasa cocok karena memiliki kesamaan minat mengenai “elite member” pada keanggotaan suatu klub dan preferensi mengenai hubungan bebas tanpa ikatan status. Mereka sepakat mengulangi rendezvous ini di lain kesempatan jika mereka memiliki jadwal di suatu bandara yang sama.

Di sisi lain kebahagiaannya terusik ketika bos-nya, Craig Gregory (Jason Bateman) menyetujui proposal Natalie Keener (Anna Kendrick), seorang junior di kantornya yang berusia 25 tahun, untuk mengadopsi sistem pemecatan secara online melalui video teleconference. Hal ini tentu saja mengancam eksistensi Bingham dan berargumen ada banyak faktor yang belum diperhitungkan oleh Keener.  Bingham berhasil meyakinkan Gregory untuk menunda sistem tersebut dengan konsekuensi Bingham harus mengajak Keener travelling untuk melihat kondisi lapangan yang sebenarnya.

Berbeda dengan Bingham, Keener masih melihat suatu hubungan secara naïf. Sedangkan Bingham adalah orang yang skeptis. Interaksi antara Bingham-Goran-Keener menjadi menu utama Up in the Air. Dialog cerdas nan segar dengan sentuhan satir mewarnai sepanjang film ini tanpa menimbulkan rasa jenuh sedetik pun. Banyak dialog memorable yang bisa dikutip dari film ini.

Sinematografinya pun menarik. Ada banyak sudut pengambilan menarik di bandara. Perhatikan pengambilan gambar siluet Keener dan Bingham beserta koper masing-masing dengan latar belakang kaca bandara, landasan pacu dengan “kepala” pesawat mendominasi di sisi kanan gambar. Sedangkan di latar depan adalah siluet para penumpang yang berlalu lalang. Whether real or CGI, it’s absolutely breathtaking shoot!


Score music Up in the Air juga menjadi unsur penting pengiring adegan tanpa kesan menjadi tempelan. Semuanya menyatu. Saya suka dengan soundtrack yang dibawakan Elliot SmithAngel in the Snow”.

Inti film ini bercerita tentang loneliness, alienasi, komitmen, dan pencarian jatidiri. Sangat mirip dengan tema Lost in Translation. Persamaan antara keduanya juga melalui 2 karakter beda generasi yang mencoba berinteraksi dan memahami keyakinan serta pandangan hidup yang selama ini mereka jalani.

Semua casts bermain hebat. Clooney tetap Clooney. Dia sangat pintar memilih peran sebagai Bingham yang sedikit banyak mirip dengan karakter aslinya. Anna Kendrick juga bermain cemerlang sebagai Bingham’s apprentice. Vera Farmiga tampil total setelah saya sebal menonton  Orphan (2009) yang dibintanginya (the film sucks, not her). Adajugapenampilan cameo yang menggigit dari J.K. Simmons(Burn After Reading dan Juno) dan Zach Galifianakis(The Hangover). I think Jason Reitman is a genius after all of his efforts for this movie.

It’s really a-must-see movie!! Film seperti ini sebenarnya tidak terlalu butuh pengakuan dari Academy Awards atau Golden Globe Awards (misalnya). Anggaplah semua penghargaan yang (akan) diterima merupakan bonus atas hasil jerih payah dari filmmakers. Yang dibutuhkan film ini adalah rekomendasi dari seorang teman ke teman lainnya dan dengan sendirinya pesan film ini akan tercapai. Congrats Mr. Reitman!! You just put in  your movie as one of my all time favorite movies!! ^__^

Pada akhirnya Up in the Air adalah sebuah film tentang hubungan antar manusia yang dituturkan secara sederhana dan tanpa bermaksud  pretentious.

Life’s a journey and worth for itself instead of the ending.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s