Alice in Wonderland (2010)

I give myself very good advice
But a very seldom follow it
That explains the trouble that I’m always in
“Be Patient,” is very good advice
But the waiting makes me curious
And I’d love the change
Should something strange begin

Well, I went along my merry way
And I never stopped to reason
I should have known there’d be a price to pay
Some day, some day

I give myself very good advice
But I very seldom follow it
Will I ever learn to do the things I should?

Will I ever learn, learn to do the things I should?

“Very Good Advice”, from Alice in Wonderland (1951), sung again by Robert Smith (2010)


Pernah makan blackforest yang enak banget tapi aroma rumnya terlalu menyengat alias terlalu nyegrak? Buat saya sih itu mengurangi kenikmatan. Oke mungkin contohnya kurang pas. Pernah makan ayam bakar yang rasanya bikin nagih ditemani sepiring nasi uduk yang gurih namun tiba-tiba kita menemukan sehelai rambut di sela-sela gundukan nasi uduk yang mengebul hangat? Itu juga mengurangi kenikmatan.

Kira-kira seperti itulah pengalaman ketika menonton Alice in Wonderland (2010) by Tim Burton. Secara visual oke namun kedodoran dari sisi cerita. Mungkin mirip seperti perasaan Alice yang badannya bertransformasi menjadi kerdil. Kemudian membesar seperti raksasa. Lalu kembali ke ukuran normal lagi. Hal yang membuat Alice pusing. Dan saya bingung.

Maksudnya ketika menonton Alice in Wonderland (AIW) kita mendapatkan sesuatu yang memang kita harapkan. Namun di sisi lain kita juga memperoleh hal yang tidak kita harapkan. So it’s kind of  mixed feelings. Jadi AIW jelek? I wouldn’t say that. Berarti AIW bagus? errr.. not really.

Saya belum pernah memberikan nilai untuk film yang pernah di-review. Untuk AIW saya lebih suka pakai angka biar ga salah tangkap. So here we go

Untuk Visual (termasuk semua wujud makhluk yang sangat ajaib, special effects, environment, wardrobes’ design): 8,5

Untuk casts: 7

Untuk sounds (termasuk music scores): 7

Skrip: 5

Baiklah kita bahas skrip dulu. Ga tau kenapa alur AIW terasa ga menggigit, lamban, dan dinodai dengan adegan puncak yang anti klimaks (adegan Alice vs. Jabberwocky). Belum lagi adegan Mad-Hatter yang melakukan tarian kemenangan yang nampak konyol dan out of place. Atau ini kesalahan editor yang kurang cermat menyulam jalan cerita? Charlie and the Chocolate Factory (2005) terlihat lebih mengalir dibandingkan AIW.

Dari departemen visual dan special effects berhasil meyakinkan bahwa kita semua telah terjerumus ke dalam Wonderland (or should I say Underland?). Secara visual, apalagi versi 3D-nya, AIW menjadi sajian yang memanjakan indera penglihatan. A feast for the eyes. Ini dilengkapi dengan wujud makhluk –makhluk penghuni Wonderland yang  ganjil.

Untuk casts tentu saja Johnny Depp-lah yang dijadikan ujung tombak. Penampilan Depp sebagai Mad Hatter memang menghibur walaupun sedikit mengingatkan pada Capt. Jack Sparrow. Helena Bonham Carter adalah the evil Red Queen. Dengan bentuk kepala yang mengalami proses pemuaian bagaikan balon gas, rambut merah menyala, dan mata mendelik, ia benar-benar menjadi sosok yang mengancam segala bentuk kehidupan yang eksis di Wonderland untuk bertekuk lutut di hadapannya. She’s really a queen in her own class. All hail Red Queen…!!!

Sebagai White Queen adalah Anne Hathaway yang menggambarkan karakternya di film ini sebagai “a happy bunny holding a knife. Cute but psycho. Very eccentric and dramatic.” Crispin Glover sebagai Knaves of Hearts, panglima perang Red Queen.

Alice diperankan oleh Mia Wasikowska, artis pendatang baru asal Australia yang memiliki wajah perpaduan antara Gwyneth Paltrow dan Claire Danes. Saya nggak ngerti alasan Burton memilih Wasikowska karena saya belum melihat aura kebintangan dalam dirinya aka aktingnya biasa-biasa aja.

Karakter favorit saya di AIW justru Cheshire Cat (suara oleh Stephen Fry) yang benar-benar berhasil mewujudkan imajinasi wujud Cheshire Cat dengan sempurna. Cheshire Cat adalah kucing gaib menggemaskan yang bisa muncul dan menghilang semaunya sambil memberikan bantuan untuk Alice dan teman-temannya. He’s so lovable!

Lalu ada deretan pengisi suara karakter , Michael Sheen sebagai the White Rabbit, Absolem aka the Blue Caterpillar oleh Alan Rickman, Tweedledum dan Tweedledee oleh Matt Lucas, Barbara Windsor sebagai Mallymkum the Dormouse, the March Hare oleh Paul Whitehouse, dan Jabberwocky oleh Christopher Lee.

Advertisements

One response to “Alice in Wonderland (2010)

  1. Pingback: On The Second Journal·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s