Shutter Island (2010)

Follow me into the desert
As thirsty as you are
Crack a smile and cut your mouth
And drown in alcohol
Cause down below the truth is lying
Beneath the riverbed
So quench yourself and drink the water
That flows below her head

Oh no there she goes
Out in the sunshine the sun is mine

I shot my love today, would you cry for me
I lost my head again, would you lie for me

Close your eyes and bow your head
I need a little sympathy
Cause fear is strong and love’s for everyone
Who isn’t me
Kill your health and kill yourself
And kill everything you love
And if you live you can fall to pieces
And suffer with my ghost

 

Just a burden in my hand
Just another anchor on my heart
Just a tumor in my head
And I’m in the dark

So follow me into the desert
As desperate as you are
The moon is glued to a picture of heaven
And all the little pigs have gone

“Burden in My Hand”, Soundgarden

Shutter Island merupakan kolaborasi keempat antara Martin Scorsese dengan Leonardo DiCaprio. Scorsese masih mempercayakan peran utama dipegang oleh DiCaprio yang handal berakting namun ‘dikutuk’ memiliki wajah boyish.Trus Robert de Niro ke mana? Dibuang? Tenang aja, de Niro tampil cameo di sini kok.

Juga ada pemunculan Jackie Earle Haley, si Rorschach dari The Watchmen (2009). Nampaknya Haley masih akan ‘dipakai’ oleh Scorsese untuk film-film selanjutnya karena ia pasti selalu butuh aktor yang bisa memerankan orang yang sakit jiwa. 😀

Shutter Island berlatar belakang Amerika Serikat  tahun 1954 yang belum lama lepas dari Perang Dunia II. Kisah dimulai ketika dua orang US Marshalls, Teddy Daniels (Leonardo DiCaprio) dan Chuck Aule (Mark Ruffalo) ditugaskan ke rumah sakit jiwa Shutter Island untuk menyelidiki hilangnya seorang pasien.

Akses ke Shutter Island hanya bisa didatangi via ferry yang datangnya tergantung cuaca. Sampai di sana, mereka disambut oleh pasukan penjaga pulau yang bersenjata lengkap. Semakin janggal ketika Daniels melihat tembok tinggi yang ‘dihiasi’ kawat beraliran listrik di sekeliling RS. Bangunan RS sendiri memakai peninggalan dari jaman PD II. Memang fasilitas RS ini khusus merawat pasien yang pernah melakukan tindak kriminal.

Rachel Solando, pasien yang hilang ini, lenyap dari kamarnya yang terkunci rapat tanpa ada jalan keluar lain. Hal ini diperumit dengan sikap kepala RS, dr. Cawley (Ben Kingsley), yang kurang kooperatif. Penyelidikan Daniels menemui jalan buntu dan ia mengambil keputusan untuk meninggalkan pulau itu esok pagi. Namun di luar dugaan cuaca berubah menjadi badai sehingga dipastikan tidak ada ferry yang bakal merapat.

Daniels yang dihantui pengalaman traumatis di saat menjadi tentara pada PD II berubah pikiran dan bertekad untuk menyelidiki sampai tuntas hilangnya Rachel Solando dan harus siap menghadapi  teka-teki, berbagai petunjuk, kenangan dari masa lalu, dan kejadian-kejadian aneh selama di Shutter Island.

Shutter Island yang bergenre psychological mystery-thriller tidak terlalu istimewa dari segi cerita.Ide ceritanya sudah pernah dibuat oleh sineas lain sebelumnya. Ending film  sudah bisa tertebak sejak 1/3 durasi awal film. Bukan. Bukan karena saya cerdas, tapi ada dialog dan adegan di film ini yang mengungkapkannya secara tersirat. Mengingatkan saya pada beberapa film yang bertema mirip namun dengan intensitas dan kompleksitas yang lebih dahsyat. Maaf saya ga bisa menuliskan judul film tersebut secara gamblang karena bisa mengungkap isi cerita Shutter Island. Apa..?? Masih tetap penasaran. Baiklah inisialnya aja ya… “FC”, “ABM”, dan “I” . Kuncinya kalau semua hal nampak begitu rumit, penjelasan yang paling masuk akal adalah yang paling sederhana. As simple as that.

Saya justru tertarik dengan score music garapan Robbie Robertson yang mampu memompa suasana tegang ke dalam layar film. Sinematografi juga tampil meyakinkan dengan memotret suasana pulau yang sangat terpencil dan beberapa bangunan megah Shutter Island berbahan batu bata merah yang merupakan peninggalan PD II (ada paket tur ke Shutter Island ga? :p ).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s