The Lovely Bones (2009)

When I lost him ache
Shudder shock of pale
My, my true love
Nicolo(whatever his last name was, sounds like eperdu?)these days are
smoking days
Though he won’t see
(Deceived me)You deceive me
(With you)Erase it I will not
(to stay)Touching a helix(didn’t she know alex?)
(I I will plead)Blotting an excuse you
(alice, alice, alice, alice, alice)
would share,
(alice, alice, alice, alice, alice)
who shall
(alice, alice, alice, alice, alice)
replace
(alice, alice, alice, alice, alice)
You

When I lost him ache
Shudder shock of pale
My, my true love
Nicolo(?) This mess I smoke away
And he won’t see
(pushing me)Oops she fell
(with you)Racin her bike
(so you)touching her lies
(not me)

“Alice”, Cocteau Twins

Seperti apakah dunia setelah kematian? Semua nampak putih? Hitam gelap gulita? Atau warna-warni seperti pelangi? The Lovely Bones (2009) memotret dunia setelah kematian dari sudut pandang orang yang mengalaminya. Susie Salmon (Saoirse Ronan) adalah seorang gadis yang nyawanya direnggut seorang pembunuh ketika berusia 13 tahun.

Kematiannya yang (terasa) dini dan sangat mendadak menimbulkan goncangan hebat pada keluarganya. Pasangan suami istri Abigail (Rachel Weisz) dan Jack Salmon (Mark Wahlberg) berduka dalam waktu yang panjang.

Sang pembunuh sendiri masih berkeliaran bebas dan masih mengincar mangsa baru. Yang perlu digarisbawahi TLB bukan film drama thriller (walaupun memang ada unsur thriller), karena Peter Jackson lebih menyorot dari sisi drama emosional mengenai dampak kematian bagi keluarga yang ditinggalkan dan terutama bagi orang yang mati itu sendiri. Jadi latar belakang dan motif kenapa si pembunuh ini menjadi seorang pembunuh tidak digali sama sekali.

Untunglah hal ini tidak mengurangi nilai TLB. Film ini menafsirkan dunia kematian sebagai dunia yang luas tanpa batas yang bisa berubah-ubah sesuai dengan perasaan seseorang yang telah mati, dalam hal ini Susie. Saya jadi teringat dengan Contact (1997) yang diperani Jodie Foster, yang juga memotret dunia kematian sebagai dunia luas tanpa batas yang selalu nampak damai (by the way saya bukan penganut Scientology lho).  Saya juga tergelitik untuk membandingkan dengan The Cell (2000). Oke ini bukan film tentang kematian namun di sini ada penampakan dunia imajinasi dalam porsi yang sangat banyak. Dunia imajinasi yang merupakan isi kepala dari seorang pembunuh berantai yang nampak imajinatif, fantastis, absurd, dan kadang-kadang menyeramkan.

Untuk ending-nya, penikmat film terbelah 2. Yang suka dan sebaliknya. Saya cuma mau komentar balas dendam bukanlah satu-satunya cara. Namun setiap manusia pasti akan menadapatkan karmanya. Baik atau buruk. Cepat atau lambat.

Satu hal yang sangat saya nikmati di film ini adalah score-nya yang ciamik sekali!! Brian Eno, sang jenius , menjadi orang di balik score TLB *nyembah2…*. Eno meracik music karyanya sendiri yang dipadukan dengan musisi favorit saya, Cocteau Twins dan This Mortal Coil. Hasilnya musiknya yang ethereal, sedikit ambience (bukan ambeien ya..), sekaligus menyentuh untuk semua adegan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s