CINtA (2009)

Sebenarnya menonton film ini karena ketidaksengajaan. Datang ke TIM karena abis ada keperluan di daerah Kuningan. Daripada langsung pulang ke rumah, mending merapat ke TIM dulu. Soalnya Kineforum lagi ngadain pemutaran film dalam rangka Festival Budaya Tionghoa. Sampai di TIM udah siap-siap menonton film karya Sammaria Simanjuntak yang sempat meraih Piala Citra 2009 untuk kategori Skenario Asli Terbaik. Ketika duduk di dalam bioskop, film baru saja dimulai (pas opening title). Agak bingung, ooohh… ini Verdi Solaiman main di sini. Makin bingung pas liat ada Titi Sjuman di layar. Dan Hengky Solaiman. Trus muncul Djenar Maesa Ayu. Emang mereka semua main di film ini ya? Saya lepaskan sejenak dari pikiran itu dan menikmati filmnya. Toh, film ini ternyata bisa dinikmati.

Saya ulangi. SANGAT.

Tentang apa sih ceritanya? Seorang pemuda Cina, A Su (Verdi Solaiman) yang punya hubungan dengan seorang gadis dan berniat untuk menikahinya, Siti (Titi Sjuman), gadis muslimah yang sehari-hari mengenakan jilbab. Kisah cinta mereka ditentang oleh keluarga masing-masing. Sederhana. Mungkin juga rumit.

Sebagai informasi, ini film pendek berdurasi 28 menit, jadi kita tidak disuguhi latar belakang kisah asmara Siti–A Su. Ga masalah, penonton bisa langsung menangkap esensi cerita lewat narasi A Su. Yang canggih Titi dan Verdi banyak menggunakan bahasa tubuh untuk menyampaikan perasaan masing-masing dan pesan itu bisa nyampe ke penonton!

Sebagai contoh gesture Titi sebagai Siti, perempuan berjilbab yang terkekang oleh keluarga dan akan dijodohkan dengan lelaki pilihan ayahnya. Kepalanya sering menunduk. Sorot matanya sering terlihat nanar tak berdaya. Punya cinta. Punya hasrat. Punya jalan hidup sendiri. Ingin berontak namun tak mau dicap sebagai anak durhaka.

Sebaliknya sinar mata A Su memancarkan semangat meluap-luap. Kobaran dari rasa cintanya terhadap Siti. Semangat yang kadang-kadang terlihat naïf. Senaif tindakannya dalam salah satu adegan, yaitu ketika ia berdiri di depan pagar halaman rumah Siti dan berteriak berulang-ulang mengucapkan 2 Kalimat Syahadat. Dia tidak peduli kalau ternyata pengucapannya masih belepotan. Dia ingin menunjukkan bahwa ia rela melakukan apa saja demi cinta. Butuh keberanian luar biasa untuk melakukan hal ini. Sungguh, adegan ini membuat merinding sekaligus tersentuh (pffuuhhh…. nulis ini saja sudah membuat saya pengen nangis…).

Pujian juga dilayangkan kepada Hengky Solaiman yang berperan sebagai ayah A Su. Watak si ayah yang keras dan membenci kaum pribumi, yang menurut dia bersalah atas kematian mendiang istrinya saat terjadi  kerusuhan rasial di Jakarta, dibawakan Hengky dengan sangat natural. Pertengkaran antara ayah-anak perihal prinsip kehidupan berlangsung sengit. Masing-masing punya argumen. Memang tidak ada yang salah dan benar di sini. Semuanya karena keadaan. Apakah Siti dan A Su bisa bersatu?

CINtA didukung akting para pemain utama yang dahsyat, plot ngalir, sinematografi indah, dan score ciamik!! Sutradara Steven Facius meramu semua ini dengan apik. Durasi yang setengah jam terasa pas. Yang menonjol juga sinematografi oleh Gandang Warah yang terlihat digarap sangat serius. Entah itu angle gambarnya. Atau tone warnanya. Semuanya enak di mata. Ini digenapi score indah yang ternyata digarap oleh Titi Sjuman. Salut. Benar-benar perempuan serba bisa. Dan di sini pun ia terlihat cantik. Kalau ada pemilihan perempuan tercantik di Indonesia, Titi pasti masuk 3 besar.

Pemilihan nama karakter utama pun unik. Nama A Su niscaya membuat penonton bertanya-tanya. Menurut sang sutradara, ia memilih nama ini karena jaman dahulu (jaman Belanda?), kaum Cina sering disamakan dengan anjing (asu: bahasa jawa). Sering dianaktirikan walaupun kehadiran mereka sebenarnya dibutuhkan. Suatu sindiran yang menohok. Hal ini sejalan dengan tagline-nya: “Jadi Cina itu… Gampang Gampang Susah…”

Hmmm… ketidaksengajaan ini berbuah menyenangkan. CINtA film yang patut disaksikan. Film ini sudah diikutsertakan dalam berbagai festival film internasional, seperti di Perancis, Singapura, Thailand, Granada, dan Australia. Saya tidak menolak untuk menonton film ini lagi. Mungkin masalahnya adalah harus nonton di mana karena belum pernah melihat format DVD-nya. Mungkin karena ini film pendek yang sebenarnya tahun 2009 sudah diputar di JIFFEST. Semoga tahun ini diputar lagi.

Note:

Ternyata film yang awalnya ingin saya tonton, cin(T)a,  adalah karya sutradara Sammaria Simanjuntak yang berdurasi 79 menit. Kapan-kapan pasti saya tonton.

Advertisements

6 responses to “CINtA (2009)

  1. Thank you banget buat reviewnya … feel very appreciated, meskipun niatan-nya nonton film yg lain tapi tdk kecewa meskipun salah film hehehehe.

    Dengan adanya 2 film cin(T)a dan CINtA malah tdnya saya berpikir sangat bagus banget kalo ide yg diangkat ini jd lebih luas – jadi bentuk festival CIN(t)A mungkin. Untuk setiap daerah atau kota lain selain Bandung dan Jakarta, saya yakin punya issue2 semacam ini; Medan, Surabaya, Jogja etc
    Penasaran pengen liat karya2 dan pandangan anak2 bangsa yg lain mengenai hal ini.

    Thanks banget sekali lagi, kalo mau ajak temen2nya utk nonton, CINtA diputar gratis di Bioskop Merdeka setiap harinya (schedule ada di FB)

    Cheers!

    • whooooaaaa…!!! ada mas Verdi…!!! *salaman dulu*

      Keren tuh ide festival CIN(t)A. Tema ini universal dan setiap penggiat film di tiap daerah pasti punya perspektif masing-masing.
      ayooo….ayoooo…. kita adain mas…!!

      makasih banget lho udah mampir dan bersedia nulis komen 🙂

  2. Terimakasih untuk review dan apresiasinya. Saat ini film CINtA sedang diputar di 14th Thai Short Film Festival 2010, sebagai official selection untuk special program ‘After Conflict’. Rangkaian film pendek yang membicarakan ‘konflik’ sebagai respon terhadap kejadian kerusuhan di Bangkok akhir-akhir ini. Respon yang sangat baik dan penonton yang luar biasa.

    🙂 sekali lagi, thanks for the review..

    • halo mas Steven… suatu kehormatan menyaksikan CINtA karya mas Steven

      Selamat ya mas, CINtA sekarang lagi diputar di Bangkok. Saya yakin sambutan penonton luar biasa karena tema CINtA itu universal dan sedikit banyak pasti banyak yang merasakan hal yang sama

      Moga CINtA makin sering melanglang buana, jadi semakin banyak ditonton dan diapresiasi

      Trimakasih banyak mas Steven atas responnya di blog ini 🙂
      saya nantikan karya mas yang selanjutnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s