The Last Exorcism (2010)

Yang sudah menonton The Last Exorcism terbelah menjadi 2, yang kecewa dan yang suka. Saya bagaimana? Saya berpendapat film ini tidak mengecewakan. Dalam artian tidak membuat mangkel (oh ya.. contoh film yang membuat saya mangkel itu Orphan (2010). Jauhi film ini!!).

Namun The Last Exorcism juga tidak memberikan warna baru. Lho…. Jadi boleh ditonton ga? Jujur, saya menikmati film ini dari awal hingga akhir. Memang pace awal agak lambat dan jangan tertipu oleh poster film ini, karena ternyata muatan drama thriller-nya sekitar 80%. Sisanya baru horor.

Menarik untuk membandingkan The Last Exorcism dengan Paranormal Activity (2007) dan [REC] (2007). Ketiganya bertema drama thriller horor dan sama-sama mengambil gaya dokumenter untuk meningkatkan unsur realisme. The Last Exorcism terletak di antara 2 film tersebut. Tidak membosankan seperti Paranormal Activity, namun tidak ‘secepat’ dan sesadis [REC].

Pendeta Cotton Marcus (Patrick Fabian) adalah seorang pendeta yang mewarisi kemampuan “exorcist” secara turun temurun. Ia mengaku selama melakukan ritual exorcist (pengusiran setan) belum pernah sekali pun melihat wujud iblis. Ia berpraktek sebagai exorcist karena 2 alasan. Yang pertama, ia ingin membantu menyembuhkan korban yang kerasukan. Biasanya korban sembuh setelah tersugesti bahwa setan sudah pergi berkat bantuan seorang pendeta. Padahal Marcus hanya pura-pura melakukan ritual exorcist. Yang kedua, Marcus butuh uang untuk biaya pengobatan anak laki-lakinya yang mengalami gangguan pendengaran.

Marcus setuju membuat film dokumenter karena ia sudah muak dengan praktek exorcist yang abal-abal. Ia mau pensiun dari praktek exorcism sekaligus membongkar kebohongan yang dilakukan para exorcist palsu.

Secara acak ia mengambil dari tumpukan surat yang meminta jasa pelayanannya. Sebuah surat yang berasal dari Louisiana berisi tentang kematian misterius ternak-ternak milik seorang petani. Berangkatlah Marcus dan tim dokumenter ke sana. Ketika sampai di tanah pertanian, mereka baru menyadari bahwa ini bukan sekedar ternak yang mati, namun menyangkut anak gadis si petani yang merasa kerasukan iblis dan membantai ternak-ternak tersebut.

Bisakah Pendeta Marcus memecahkan masalah ini? Dengan catatan kemampuan exorcist Marcus yang abal-abal, sedangkan kehadiran iblis kali ini begitu nyata, tidak seperti kasus-kasus sebelumnya.

Yang mengganjal dari film ini adalah gaya dokumenternya. Kalo memang berniat ala documenter, kenapa setiap muncul adegan menegangkan selalu muncul musik pengiring untuk mendukung suasana? Akan lebih otentik jika semua adegan dibiarkan apa adanya.

Lalu sudut pandang orang kedua dari cameraman yang terasa artificial. Misalnya adegan sang pendeta melepas blazer-nya. Dalam waktu 2 detik ada 2 sudut pengambilan kamera yang berbeda, yang mana seharusnya hanya ada 1 buah kamera. Tidak terlalu mengganggu namun mengurangi unsur realisme.

Terakhir, ending-nya yang ambigu juga sempat membuat saya bertanya-tanya. Heyy… apa yang sebenarnya terjadi? Setelah bertukar pikiran dengan beberapa teman di forum internet, barulah bisa mengerti ending The Last Exorcism.

Oya, jangan salah… saya menikmati film ini (seperti yang sudah ditulis di awal review). Tidak menakutkan namun suasana suspense thriller horor-nya masih terasa. Kalo mau yang lebih nendang, mending nonton [REC] yang produksi Spanyol. Lebih menyeramkan.

Advertisements

One response to “The Last Exorcism (2010)

  1. Pingback: TrollHunter (2010) « melancholic.android's drive inn·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s