Monsters (2010)

Alhamdulillah, menonton film pembuka iNAFFF 2010 (Indonesia International Fantastic Film Festival) ini karena keberuntungan. Pihak iNAFFF memberikan undangan menghadiri opening dan closing film, karena blog saya kebetulan terpilih di antara 20 blog yang menulis tentang review film. Sebelum menonton Monsters (2010), saya sengaja tidak mencari tahu mengenai film ini. Nikmati saja tanpa ekspektasi. Formula ini biasanya berhasil untuk film-film festival dan indie.

Enam tahun yang lalu NASA menyelidiki kemungkinan adanya bentuk kehidupan asing di dalam tata surya kita. Sebuah roket yang dikirim NASA hancur dan mendarat di Amerika Tengah. Dari puing-puing roket tersebut, muncul organisme asing yang tumbuh menjadi alien. Sebagian wilayah Mexico dinyatakan sebagai DAERAH TERINFEKSI (INFECTED ZONE).

Kisah dimulai ketika Andrew Kaulder (Scoot McNairy), seorang fotografer pada suatu kantor berita, ditugaskan untuk mengawal Samantha Wynden (Whitney Able) melintasi Daerah Terinfeksi menuju wilayah Amerika Serikat. Andrew harus menjalankan tugas ini karena Sam adalah putri atasan Andrew.

Kesulitan sudah mulai menghadang ketika kereta yang mereka tumpangi tidak bisa meneruskan perjalanan. Mereka terpaksa turun dan berjalan kaki di kegelapan malam. Esok hari, setelah menumpang semalam di rumah penduduk, mereka meneruskan perjalanan ke pelabuhan fery.

Sesampainya di sana, fery yang menuju Amerika Serikat sudah berangkat. Jadwal selanjutnya besok pagi. Hambatan belum berakhir. Selembar tiket fery ini harus ditebus sebesar US$5.000!! Sang penjual berkilah di saat darurat seperti itu, fery adalah sarana transportasi yang paling aman.

Mereka harus menginap di motel untuk menunggu keberangkatan fery jam 7 pagi. Malam itu, Andrew yang sedang mabuk melancarkan rayuan-rayuan maut terhadap Sam. Namun Sam tak bergeming dengan alasan ia telah bertunangan.

Esok pagi, keadaan bertambah runyam dengan dicurinya paspor mereka berdua oleh seorang perempuan yang ber-one night stand dengan Andrew. Tanpa paspor mereka harus menempuh jalur darat Daerah Terinfeksi yang penuh bahaya untuk menembus perbatasan Amerika Serikat. Bisakah mereka selamat sampai di Amerika?

Monsters membuat saya berdecak kagum dengan fakta ini adalah film indie (bukan produksi studio besar) yang hanya menghabiskan biaya US$15.000!!! Ini benar-benar biaya yang sangat kecil untuk produksi sebuah film. Sebagai perbandingan, District 9 (2009) yang diproduseri Peter Jackson, yang disebut-sebut termasuk ukuran low budget, menelan biaya US$30 juta. Film-film produksi dalam negeri kita saja sudah berbiaya milyaran rupiah.

Mata terbelalak & mulut melongo sepanjang film karena dengan budget sekecil itu dan hanya 5 orang kru, sutradara Gareth Edwards, dapat menghasilkan film yang kualitasnya SANGAT SANGAT bagus. Editing-nya runut. Visual efek mengagumkan (berbagai bangkai pesawat & kapal bisa tampil bukan seperti tempelan). Detail-nya rapi. Tone-nya pas. Score mendukung. Yang paling juara, sinematografinya dahsyat! Sudut pengambilan gambar terlihat sangat diperhitungkan. Scene favorit saya sewaktu Sam dan Andrew terbangun menatap fajar pagi yang merekah kemerahan di atas sebuah motor boat yang sedang melintasi sungai. Indah sekali!

Dari segi skrip ga ada komplain. Datang dan menonton tanpa pretensi apapun, saya puas dengan suguhan ceritanya. Mungkin ada penonton yang kecele. Kurang pas kalau disandingkan dengan District 9. Kesamaan keduanya menampilkan kisah alien secara manusiawi. Namun di Monsters tidak ada interaksi antara manusia-alien. Monsters fokus pada hubungan antara 2 manusia. Lebih setuju dengan situs slashfilm.com yang menyebut film ini sebagai “Lost in Translation di tengah dunia yang terinfeksi oleh monster”.

Pada hakikatnya film ini memang berkisah tentang alien. Alien yang berada dalam diri manusia. Alienasi (keterasingan) dari keluarga dan orang-orang yang dianggap dekat.

Monsters adalah road trip di Mexico. Sudah cukup lama tidak menonton sebuah road movie. Apalagi dengan bumbu sci-fi dan drama romantik. Menurut saya ini seperti anti-tesis dari War of the Worlds (2005) yang hingar bingar namun hambar. Ada sindiran terhadap sudut pandang orang Amerika (Serikat) yang paranoid serta doyan melakukan kekerasan sebagai solusi (sedikit catatan: Monsters dibuat oleh orang Inggris). Misalnya, tentara Amerika yang suka menjatuhkan bom biologis untuk memusnahkan alien. Juga menyindir cara Amerika yang membangun tembok raksasa (lebih tinggi daripada Tembok Cina) di sepanjang perbatasan untuk menangkal invasi alien. Sebuah usaha besar-besaran yang terlihat naïf, karena setiap bentuk kehidupan pasti akan menemukan jalannya sendiri-sendiri tanpa bisa dihalangi apapun. Inti dari proses evolusi. Ingat Jurassic Park?

Mungkin ending-nya saja yang terasa so-so. Ga jelek sih. Mungkin bisa dibuat lebih greget aja. Ada kalimat menohok di film ini yang dilontarkan oleh Andrew, sang fotografer. Ia bertanya, “Kamu tahu, berapa yang akan dibayar kantor berita untuk sebuah foto anak kecil yang tercabik alien?” Ia menjawab sendiri,”50.000 dollar!!”. Lalu ia melanjutkan,”Untuk foto seorang anak yang sedang tertawa lucu?” “NOL”.

Terima kasih iNAFFF 2010 yang sudah membawa film ini ke Jakarta. 🙂

Advertisements

2 responses to “Monsters (2010)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s