Unstoppable (2010)

Bagaimana menjual sebuah film yang bercerita tentang kereta tanpa masinis yang lepas kendali? Ini dianggap bukan ide yang benar-benar baru. Karena banyak media selalu menyebut film ini sebagai “Speed di atas rel”. Faktor penarik tentunya harus mengontrak aktor yang disukai penonton. Sebagai magnet kaum hawa, dipasang Chris Pine yang sukses memerankan Capt. Kirk di Star Trek (2009). Sebagai bocoran, di film ini Chris sempat tampil hanya memakai sempak.. 😀 . Untuk menarik kalangan penonton yang lebih dewasa, nama Denzel Washington didapuk sebagai peran utama. Bagi Tony Scott, sutradara Unstoppable, Denzel bukanlah nama asing. Sebelumnya mereka pernah berkolaborasi di Crimson Tide (1995), Man of Fire (2004), Déjà Vu (2006), dan The Taking of Pelham 123 (2009).

Will Colson (Chris Pine) adalah seorang kondektur rookie di perusahaan kereta AWVR. Will sedang mengalami proses hukum dengan istrinya yang mengakibatkan pengadilan melarang dirinya bertemu dengan anaknya selama beberapa waktu tertentu. Pagi itu Will ditugaskan untuk membawa kereta dengan nomor lokomotif 1206 berpasangan dengan Frank Barnes (Denzel Washington), seorang masinis veteran yang berpengalaman selama 28 tahun.

Sementara itu, di ujung rel yang berseberangan sejauh 200 mil, kereta bernomor lokomotif 777, secara tidak sengaja menjadi liar dan lepas kendali akibat kecerobohan seorang petugas kereta. Kereta tanpa masinis ini melaju dalam kecepatan penuh dengan muatan gerbong berisi cairan kimia berbahaya.

Pada awalnya duet Will-Frank ini menimbulkan friksi. Frank bersikap sinis terhadap Will yang dianggapnya bisa masuk ke AWVR karena nepotisme. Frank dan rekan-rekannya di perusahaan tersebut, yang sudah mengabdi puluhan tahun, malah terancam PHK. Frank pun punya masalah pribadi. Nicole (Elizabeth Mathis), putrinya yang berusia 19 tahun, ngambek karena Frank jarang punya waktu untuknya serta telat mengucapkan selamat ulang tahun.

Kondisi semakin parah lewat konflik antara Connie Hooper (Rosario Dawson), kepala operasi stasiun, dengan Galvin (Kevin Dunn), sang direktur AWVR. Galvin mengintervensi setiap upaya Connie dalam menghentikan kereta 777 karena ia memperhitungkan setiap langkah Connie berdasarkan estimasi kerugian material yang bakal diderita dan harga saham AWVR yang bakal ambruk.

Unstoppable tipe film non-stop action tanpa banyak basa-basi. Semua adegan pembuka dan perkenalan para karakter mengerucut pada suasana tegang melihat kereta 777 yang melaju kencang dan usaha-usaha untuk menghentikannya.

Jeleknya, semua drama dan konflik jadi terasa tempelan. Termasuk sikap awal Frank yang sinis. Perubahannya menjadi tim yang kompak dengan Will terasa agak dipaksakan. Hanya karena durasi film sudah menginjak setengah jalan dan tensi cerita mulai meningkat. Perseteruan antara Connie-Galvin juga terasa agak berlebihan untuk menciptakan sebuah karakter yang tidak disukai penonton. Jujur, dalam film ini tidak ada villain, karena lepas kendalinya kereta 777 berawal dari ketidaksengajaan. Semua karakter di film ini berperan sesuai porsi pekerjaannya masing-masing.

Poin positifnya, film ini enak ditonton tanpa perlu membuat kening mengernyit. Suasana tegang terjaga di sepanjang film. Score-nya juga sangat mendukung setiap adegan. Yang menarik, Tony Scott kerap menggunakan teknik hand-held camera di sini. Mirip yang digunakan Paul Greengrass di trilogy Bourne. Cukup efektif untuk meningkatkan suasana realis dan ketegangan.

Jadi nikmati saja gantengnya Chris Pine, karisma Denzel Washington, dan kereta yang meluncur kencang. Pegangan di kursi (atau teman sebelah Anda)… and enjoy the ride!! 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s