The Blue Mansion (2009)

Seorang konglomerat raja nanas ditemukan mati di ruang kerja yang berada dalam rumahnya. Keesokan pagi ia kembali sebagai hantu yang menyaksikan reaksi dan tingkah laku seluruh anggota keluarga dalam menghadapi kematiannya. Ia melihat pertengkaran, intrik, perselisihan. Semuanya demi memperebutkan tahta di perusahaan. Situasi semakin keruh dengan datangnya 2 orang detektif yang memperoleh informasi bahwa ada kemungkinan mendiang mati karena dibunuh.

Wee Bak Chuan (Patrick Teoh) bermain cemerlang sebagai sosok bapak powerful serta perfeksionis yang suka memaksakan kehendak kepada ketiga anaknya. Yang paling juara ketika kamera menyorot berbagai ekpresi Patrick Teoh. Emosinya dapet banget! Wee Siok Lin (Louisa Chong) adalah istri Bak Chuan yang paling berduka dengan kematian suaminya yang mendadak dan tersiksa dengan konflik anak-anaknya.

Wee Teck Liang (Lim Kay Siu) adalah putra tertua yang walaupun enggan namun diperintahkan untuk mewarisi tahta kerajaan nanas. Dia merasa tidak berbakat menjalankan tampuk bisnis karena ia lebih tertarik pada dunia seni. Teck Liang beristrikan Wee Yen Ching (Claire Wong), yang merupakan istri keduanya setelah istri pertamanya, Wee Mei Yi (Emma Yong), meninggal dunia karena bunuh diri. Mei Yi melahirkan seorang putri yang sekarang beranjak remaja. Wee Jia Wen (Denise Chan).

Putra nomor dua adalah Wee Teck Meng (Adrian Pang) yang selama ini membantu sang ayah mengelola kerajaan bisnisnya. Teck Meng yang bersifat ambisius dan temperamental beristri Veronica Wee (Tan Kheng Hua), seorang perempuan haus seks yang sering diabaikan oleh suaminya. Sedangkan Teck Meng malah berselingkuh dengan perempuan lain.

Wee Pei Shan (Neo Swee Lin), sang putri bungsu, adalah perawan tua yang alkoholik. Kisah cintanya dengan seorang lelaki keturunan India kandas ditentang kedua orangtuanya. Ada juga Wee Bak How (Ben Tan), saudara laki-laki Bak Chuan yang diam-diam juga bernafsu untuk menguasai kerajaan nanas.

Sutradara Glen Goei mengolah The Blue Mansion menjadi satu drama dark comedy satir yang cerdas, gurih, dan menggemaskan. Plotnya sangat menarik dengan nuansa cerita ala Agatha Christie lewat kemunculan 2 orang detektif, Inspektur Suresh (Huzir Sulaiman) & Inspektur Tan Kok Leong (Steve Yap). Inspektor Suresh berkarakter tendensius, gampang curiga, dan sok tau yang sering kali mampu mengocok perut penonton. Bertolak belakang dengan Tan Kok Leong yang bersifat empati, lugu, serta jujur ga neko-neko.

Glen Goei melancarkan kritik terhadap sikap masyarakat Singapura yang memandang  agama bukan menjadi sesuatu yang sakral lagi. Ini nampak ketika semua anggota keluarga bingung menentukan upacara pemakaman akan diadakan dengan tata cara agama yang mana. Kristen, Buddha, Tao, atau pragmatis?

Tataran sosial, khususnya kehidupan Cina peranakan, pun tak luput dari sindirannya. Sistem patriarkal yang membelenggu disampaikan dengan gamblang. Semuanya harus tunduk dengan keputusan kepala keluarga. Suka atau tidak suka. Benar ataupun salah. Prasangka antar ras juga dikritik lewat hubungan Pei Shan dengan seorang pria keturunan India yang tidak disetujui kedua orangtuanya.

Oya, judul film ini diperoleh dari lokasi shooting di Cheong Fatt Tze Mansion yang dinding luarnya memang dicat biru indigo. Bangunan kuno buatan tahun 1880-an ini terletak di Penang, Malaysia yang terdiri atas 38 kamar tidur.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s