Resep 3 Album U2 (bagian 1)

Dalam waktu 1 minggu lagi, dekade ini akan berakhir. 2011 adalah awal dekade baru. Untuk U2 hal ini amatlah penting. Lebih penting daripada siapa yang sekarang menjadi teman kencan Adam Clayton.

Resep 3 Album adalah U2 setiap 10 tahun sekali (lebih tepatnya 3 album) akan merubah strategi dan mengeksplorasi musik U2 ke arah baru. Teori ini sangat terlihat dalam kurun waktu 20 tahun terakhir. Untuk 10 tahun sebelumnya (dekade 1980-1990), ada 6 album yang bisa dibagi menjadi 2 bagian. Pembahasan akan dibatasi hanya pada album penuh. Album live, EP, soundtracks, dan kompilasi tidak masuk hitungan.

Mari kita mulai dari Boy (1980), October (1981), dan War (1983). Ketiganya diproduseri oleh Steve Lilywhite. Musik U2 masih ‘mentah’ dan ‘tembak langsung’. Aroma Joy Division, The Clash, Sex Pistols masih terasa kental. Bono terdengar masih mencari ciri khasnya. Ia sering berteriak lepas dan lantang sebagai cerminan jiwa mudanya yang memberontak. Jeritannya tersimak parau. Dua diantara 3 album ini, Boy dan War, menampilkan Peter Rowen di sampul albumnya.

Periode berikutnya, The Unforgettable Fire (1984), The Joshua Tree (1987), Rattle and Hum (1988). Ditandai dengan kedatangan duo produser legendaris, Brian Eno dan Daniel Lanois. Musiknya mulai atmospheric. Ini pengaruh dari Eno yang biasa bermain musik ambient. Suara synthesizers dan orkestra mulai dipakai di sini. Ketiga album ini juga memperlihatkan ‘pemujaan’ U2 terhadap Amerika. Misalnya, di Unforgettable Fire terdapat lagu “Pride (in the Name of Love)” dan MLK yang merupakan penghormatan terhadap perjuangan Martin Luther King, Jr. Lalu ada lagu “4th of July”, “Indian Summer Sky”, serta “Elvis Presley and America”.

Sedangkan The Joshua Tree seringkali dibandingkan dengan Born in the U.S.A.-nya Bruce Springsteen yang ‘Amerika banget’. Faktanya sampul album yang menampilkan seluruh personil U2 ini, dipotret oleh Anton Corbijn di gurun Mojave daerah California. Corbijn menukas bahwa konsep sampulnya adalah “Man and environment, the Irish in America“.

Di Rattle and Hum, pengaruh Amerika juga terlihat jelas karena tujuannya memang mengeksplorasi blues-rock, folk rock, dan country. “All Along Watchtower” adalah milik Bob Dylan yang juga dipopulerkan oleh Jimi Hendrix. “Angel of Harlem” merupakan tribute untuk Billie Holiday. “Desire” ‘meminjam’ roh Bo Diddley, seorang legenda rock and roll. “Love Rescue Me” adalah hasil kolaborasi Bono dan Bob Dylan. “When Love Comes to Town” menampilkan B.B. King pada gitar dan vokal. “Heartland” berkisah tentang Mississippi dan sekitarnya. Rekaman liveI Still Haven’t Found What I’m Looking For” didukung koor gereja masyarakat kulit hitam Amerika yang bernuansa gospel. Dan jangan lupa, beberapa lagu di album ini direkam di Sun Studio di Memphis, Tennessee, tempat di mana Elvis Presley, Roy Orbison, dan Johnny Cash pernah rekaman. Dengan segala pencapaian di Rattle and Hum, justru membuat U2 merasa mandek. Mereka berpikir ulang untuk meredefinisi musik U2.

….. bersambung ke Jurus 3 Album U2 (bagian 2)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s