Rush (2013)

Rush Attacks!

Rush Attacks!

Secara mengejutkan Rush ternyata film yang sangat bagus! Jangan salah, saya penggemar balapan mobil Formula One (F1) yang secara intens sempat mengikuti F1 era Mika Hakkinen vs. Michael Schumacher sampai jaman Kimi Raikkonen. Namun tidak berharap banyak dari film yang mengisahkan perseteruan antara Niki Lauda vs. James Hunt ini. Khawatir jalan ceritanya hambar dan nanggung.

Ternyata saya harus menelan ludah. Rush yang disutradarai oleh Ron Howard bukan saja menggigit dari sisi cerita (porsi seimbang antara aksi+drama), sinematografi apik (dalam hal ini, saya suka tone yang tidak tajam dan sedikit grainy layaknya gambar yang muncul dari layar televisi era 70an), score yang memompa adrenaline dari the one & only Hans Zimmer, dan yang paling penting, akting andal 2 pemeran utamanya.

Niki Lauda (Daniel Bruhl), pembalap F1 asal Austria, digambarkan sebagai pribadi yang serius, tenang, analitik, dan jenius dalam hal setting mobil. Sedangkan James Hunt (Chris Hemsworth) adalah pria Inggris berpenampilan flamboyan dengan rambut gondrong sebahu, bad boy, suka meledak-ledak, pemikat kaum hawa, sekaligus cepat di lintasan balap.

Persaingan di antara keduanya dimulai sejak jenjang balap mobil F3 (kelasnya di bawah F1) pada tahun 1970. Sukses Lauda menjejaki F1, sontak membuat gregetan Hunt dan mencari cara agar bisa masuk juga ke dalam ajang balap mobil paling prestise itu.

"My hair is better than you!"

“My hair is better than you!”

Pertarungan sengit mereka berlanjut di dunia F1 selama dekade 70an. Kisah berfokus pada musim balapan F1 tahun 1976 di mana Hunt berusaha keras mengejar dominasi kemenangan Lauda yang saat itu berstatus sebagai juara dunia F1 tahun 1975. Hunt berhasil mendekati tangga juara dunia ketika Lauda terpaksa absen karena mengalami kecelakaan hebat di sirkuit Nurburgring yang mengakibatkan luka bakar di sekujur badan dan wajahnya.

Namun Lauda punya determinasi utuh. Dia tidak akan membiarkan Hunt menjadi juara dengan langkah mudah. Setiap kemenangan Hunt yang disaksikan oleh Lauda melalui televisi di kamar rumah sakit, merupakan motivasi utama agar ia segera pulih dan kembali terjun di lintasan balap.

Kembalinya Lauda ke kokpit mobil F1 tentu saja membuat persaingan antara mereka kembali memanas. Puncaknya terjadi di GP Jepang yang merupakan penutup untuk balapan musim 1976. Point mereka terpaut tipis. Lauda: 68. Hunt: 65. Balapan yang berlangsung di bawah guyuran hujan deras ini berakhir sangat dramatis.

Di luar plot tentang balapan, Rush juga menyentuh sisi pribadi 2 pembalap tersebut. Howard memperlakukan bagian ini bukan sebagai tempelan, namun elemen penting dari Rush.  Kehidupan di luar sirkuit yang membentuk karakter kedua pembalap. Saya wajib men-stabilo akting Bruhl sebagai Lauda yang luar biasa. Dia harus diganjar Oscar.

Pada akhirnya, Rush adalah sebuah karya yang komplit dari Ron Howard. Mampu bercerita tentang kerasnya dunia balap tanpa perlu terlihat sok maskulin dan tidak perlu untuk mengerti tentang balapan untuk mencicipi kencangnya mobil-mobil F1 di Rush.

Highly recommended.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s