Night Time, My Time

Siapa Sky Ferreira? Buat saya, namanya sekelebat saya baca pertama kali di berita penangkapannya dan sang kekasih, Zachary Cole Smith (vokalis DIIV), oleh polisi karena kepemilikan ecstasy pada 14 September 2013. Iya, sudah setahun belakangan mendengarkan musik DIIV, tapi itu belum jadi pemicu untuk menyelidiki seperti apa sih musik Sky Ferreira.

Baru minggu lalu saat peluncuran album penuh perdananya pada tanggal 29 Oktober 2013, ia berhasil membetot perhatian saya. Pertama, karena sampul albumnya yang terhitung vulgar. Apalagi untuk ukuran label major (ia bernaung di bawah Capitol). Sampul tersebut memperlihatkan Ferreira yang basah bertelanjang dada dengan latar belakang dinding kamar mandi berwarna hijau di sebuah hotel di Perancis. Foto itu dijepret oleh Gaspar Noe, seorang sutradara kenamaan asal Perancis.

Langkah kedua, karena penasaran saya bergegas mencari streaming album “Night Time, My Time“ ini, dengan asumsi penyanyi ini sekedar menjual sensasi instan melalui sampul albumnya untuk menutupi materi musiknya yang dangkal atau bahkan kosong.

Ternyata saya K E L I R U. Mulai awal sampai akhir, album ini konsisten menunjukkan keseriusan penggarapan. Musik dasarnya memang pop yang dibalut dentum drum yang menghentak, synths yang menderu, distorsi kasar gitar, dan bass yang pejal. Hampir semua lagu bertempo upbeat. Kalau suka The Naked and Famous, kemungkinan besar bakal suka musik Ferreira.

Lagu urutan pertama, “Boys”, tanpa basa-basi langsung menghajar telinga dengan iramanya yang kencang. Pada lagu “24 Hours”, ia meneriakkan, “24 hours… We still have time… 24 hours… You’re still mine!”. Ada keputusasaan, sekaligus optimisme.

Track “Omanko”, mau ga mau mengingatkan pada gaya industrial Nine Inch Nails. Liriknya nakal. “Reading Japanese comics. And fucking Japanese omanko. The Japanese Jesus. Oh, Japanese Jesus, come on”. Tahu nggak apa artinya Omanko? Dalam bahasa slang Jepang, Omanko berarti organ genital perempuan. Sedangkan “You’re Not the One” memang pantas didapuk jadi single pertama album ini. Dalam arti terdengar cantik dan bisa mewakili isi keseluruhan album.

Karakter vokal Ferreira kadang kala terdengar seperti Lady Gaga di “Nobody Asked Me (If I Was Okay)”. Lalu di “I Blame Myself” berubah menjadi mirip Sophie B. Hawkins yang musiknya sekilas mengingatkan pada “Runaway” Janet Jackson.

Last but but not least, resep lezat album ini ada di tangan Ariel Rechtshaid, yang pernah memproduseri Haim dan Vampire Weekend.

Must-hear album!

Tracks favorit: “You’re Not The One”, “24 Hours”, dan “Omanko”.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s