Ender’s Game (2013)

Enders Game poster

>>>>>>>>>>>>> SPOILER ALERT <<<<<<<<<<<<<

Kesan pertama nonton Ender’s Game yang bersumber dari buku karangan Orson Scott Card yang berjudul sama, kok ini seperti “Starship Troopers for teenage boys”? Setelah nonton sampai selesai malah berpikir, ooohh ini bisa jadi semacam prekuel Starship Troopers. Hal seperti ini nggak terelakkan ketika kedua film memiliki persamaan:

  1. Setting di masa depan atau dengan kata lain mengambil genre science fiction.
  2. Temanya manusia di bumi yang berjuang melawan invasi bangsa alien yang berbentuk serangga raksasa yang memiliki tingkat intelejensia tinggi. Di Starship Troopers spesies serangganya beraneka ragam, sedangkan di Ender’s Game hanya bangsa semut yang disebut Formics.
  3. Tokoh-tokoh utama kedua film menggeluti dunia militer.
  4. Ada karakter yang dapat berkomunikasi dengan bangsa serangga alien lewat cara telepati.
Let the game begins!

Let the game begins!

Andrew “Ender” Wiggin (Asa Butterfield) adalah seorang anak lelaki yang ditakdirkan sebagai the chosen one. Konsep ini sudah ada sejak zaman nabi-nabi. Oleh karena itu, Ender wajib mengikuti pelatihan militer berbentuk simulasi untuk mempersiapkan dirinya menghadapi Formics di perang sesungguhnya. Ender bersama dengan anak-anak lain yang terpilih, digembleng secara fisik dan mental di sebuah stasiun luar angkasa. Ada sosok Kolonel Hyrum Graff (Harrison Ford) yang berperan sebagai kepala sekolah dan didampingi oleh Mayor Gwen Anderson (Viola Davis). Kolonel Graff membagi semua anak ke dalam beberapa tim dan mereka wajib mempersiapkan diri menghadapi latihan rutin perang jarak dekat di sebuah ruangan bergravitasi nol. Tim yang menang melawan tim-tim lainnya berhak lanjut ke level yang lebih tinggi.

Level ini berupa simulasi perang melawan Formics. Di basecamp yang terletak sebagai titik terdekat dengan planet Formics, Ender dibimbing secara langsung oleh seorang pahlawan perang yang diyakini telah gugur, Mazer Rackham (Ben Kingsley). Kemampuan Ender sebagai pemimpin tim benar-benar diuji. Dia harus bisa menentukan posisi pasukan manusia dan strategi jitu untuk memenangkan perang.

"I need you to pay a full attention on his tattoo pattern. It'll be included on your final exam."

“I need you to pay a full attention on his tattoo pattern. It’ll be included on your final exam.”

Singkat cerita, lewat tes final simulasi perang yang “oh-cuma-gini-doang”, Ender dan tim berhasil mengalahkan armada Formics dan membumihanguskan planet hunian mereka dengan menggunakan “MD“ (Molecular Detachment), sebuah meriam laser berukuran raksasa. Yang membuat Ender kaget bukan kepalang ternyata kejadian barusan bukan simulasi, melainkan peristiwa sungguhan yang benar-benar terjadi. Ender shock, karena ia baru saja mengorbankan beberapa orang anggota timnya sebagai perisai perlindungan “MD” dan sejatinya tidak ingin melakukan genosida terhadap Formics.

Kolonel Graff menyatakan bahwa Ender akan dikenang manusia sebagai pahlawan, namun Ender menganggap dirinya seorang pembantai. Setelah kejadian ini, Ender mendapat bisikan-bisikan halus di dalam pikirannya (agak terkesan mistik). Berdasarkan wangsit yang diterimanya, Ender berjalan ke luar basecamp menuju reruntuhan yang jaraknya hanya sepelemparan kolor. Iya, sedekat itu. Di dalam reruntuhan ia menemukan seonggok telur/larva yang masih aktif dan ratu Formics yang sekarat. Sekonyong-konyong film ini berubah mirip bagaikan salah satu adegan di “Aliens”. Sang ratu yang selama ini membisiki Ender, mengamanatkan telur Formics tersebut untuk dikembangbiakkan. Ender yang merasa bersalah telah memusnahkan bangsa Formics, menerima tanggung jawab ini dan mengembara ke seantero penjuru jagad raya guna mencari planet yang cocok sebagai rumah baru Formics. Sekian.

Unfortunately, it's not Fortress of Solitude

Unfortunately, it’s not Fortress of Solitude

Bagi saya, pelajaran dari Ender’s Game adalah: nggak usah sok merekrut abege labil untuk diplot sebagai prajurit. Emosinya masih meledak-ledak dan mudah berubah pikiran. Apalagi Ender ini memang memiliki masalah psikologi yang secara emosi memiliki kecenderungan berbuat kekerasan secara fisik. Dia masuk ke akademi militer atas dasar hasratnya sendiri. Seharusnya ia sadar kalau tujuan akhir dari akademi ini adalah sebagai pejuang yang bertugas MEMBUNUH Formics.

Konflik-konfliknya nampak dangkal. Hanya nampak sebagai syarat untuk memperpanjang durasi film. Apakah mungkin karena Ender’s Game menyasar kaum remaja sebagai target utama calon penonton? Belum lagi adegan akhir yang terlihat terlalu mudah (baca: Ender bersua dengan ratu Formics). Basecamp tersebut sudah berdiri lebih dari 20 tahun. Bagaimana mungkin dalam waktu selama itu, manusia tidak memindai daerah sekitar basecamp? Apalagi sebuah reruntuhan asing berukuran raksasa yang terletak tepat di depan hidung mereka? Terlalu janggal buat saya.

Yowis, film ini masuk kategori mudah terlupakan. Kalau hasil peredarannya gagal alias flop, saya nggak akan heran. Sejatinya, menuangkan deretan kalimat yang berasal dari buku memang pekerjaan paling menantang bagi para pembuat film.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s