Godzilla (2014)

Godzilla_1

Terperanjat sekaligus girang ketika adegan-adegan awal Godzilla versi terbaru ini mulai bergulir. Shoot landscape dari ketinggian langsung melontarkan ingatan saya kepada sensasi menonton Jurassic Park (1993) di bioskop. Efek film Godzilla berlipat ganda karena kebetulan saya menontonnya di layar IMAX 3D.

Dari sini saja saya sadar, Godzilla sudah berada di jalur yang tepat. Sutradara Gareth Edwards setahu saya memang menggemari makhluk-makhluk aneh dan juga yang berukuran raksasa. Ini terlihat dari film panjangnya yang pertama, Monsters (2010). Edwards mengaku bahwa George Lucas, Steven Spielberg, dan Quentin Tarantino mempengaruhi caranya membuat film. Kemudian ia dengan sadar meletakkan elemen-elemen favoritnya secara cantik di dalam Godzilla.

Sinopsisnya sepertinya ga perlu ditulis di sini. Intinya kebangkitan Godzilla dan kepahlawannya bertarung melawan monster jahat. Justru ingin menyampaikan beberapa hal yang menarik bagi saya.

Ada kemiripan antara Monsters dan Godzilla. Walaupun bintang utamanya adalah makhluk-makhluk raksasa, Edwards memberikan porsi cukup banyak bagi manusia dan hubungan antar persona.

Di Godzilla ada cerita tentang keluarga yang tercerai berai akibat kemunculan monster. Ada juga sindiran terhadap perilaku orang barat (baca: militer & pemerintah Amerika Serikat) yang gemar bereaksi dengan menggunakan kekuatan dan kekuasaan. Sedangkan orang timur yang diwakili oleh sosok Dr. Ishiro Serizawa (Ken Watanabe), membiarkan alam yang mengatur keseimbangannya sendiri tanpa campur tangan manusia.

Oya, ada cacat kecil di Godzilla. Penjelasan mengenai asal usul Godzilla disampaikan oleh Dr. Serizawa yang menyebutnya sebagai “Gojira”. Beberapa adegan kemudian, tanpa ada pemberitahuan selanjutnya, Admiral William Stenz (David Strathairn) menyebutnya sebagai Godzilla.

Lalu ada kebodohan tentara AS. Kenapa mereka mengangkut hulu nuklir dengan menggunakan kereta yang rentan serangan pada relnya? Lebih cepat dan lebih aman memakai helikopter atau pesawat. Dan akhirnya memang pakai helikopter sih. Buang-buang waktu dan nyawa tentara.

“AAAAAHHH!!!”

Itu momen mulut menganga saya ketika pasukan tentara melakukan proses terjun HALO (High Altitude Low Opening) yang diiringi musik karya Gyorgy Ligeti yang sama dengan musik pada adegan munculnya monolith di film 2001: Space Odyssey (1968). Merinding banget!

Sepertinya pengen menunjukkan fenomena kalau manusia tidak siap dengan makhluk/benda asing dan gagap bagaimana cara memperlakukannya.

Lepas dari semua itu, Godzilla versi Gareth Edwards ini sangat memuaskan karena ia menghormati Godzilla yang berasal dari Jepang dengan memasukkan unsur-unsur dari film-film Godzilla yang terdahulu.

Favorit saya untuk 2014!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s