Edge of Tomorrow (2014)

Edge-of-Tomorrow

Film tentang ‘kepahlawanan’ Tom Cruise sudah dibuat banyak sekali. Edge of Tomorrow pun bukan pengecualian. Perang. Ada. Masa depan yang suram. Ada. Peralatan canggih. Ada. Bangsa alien (di sini disebut Mimics) yang ingin menguasai bumi. Ada. Lengkaplah.

Saya tidak akan menyangkal kalau ulasan ini akan menyebut 2 judul film yang secara instan langsung mengingatkan pada premis Edge of Tomorrow, yaitu Groundhog Day (1993) dan Source Code (2011).

Film yang disebut pertama, bisa dibilang benchmark untuk saya bagi film dengan tema pengulangan waktu. Ide GD terlihat segar, jenaka, liar, sekaligus membuat penasaran. Konsep “what if” ini digarap dengan brilian. Persamaan antara GD dan EOT mungkin hanya sebatas pengulangan waktu saja.

Sedangkan Source Code memiliki keterikatan yang lebih kuat dengan Edge of Tomorrow. Keduanya tentang personil militer yang harus mati berulang kali demi mencegah terjadinya malapetaka dahsyat. Setiap bangkit kembali, mereka telah menghafalkan langkah-langkah yang harus ditempuh agar segalanya berjalan sempurna sesuai kehendak mereka. Seperti bunyi pepatah, “Practice makes perfect”.

Jatuhnya, EOT mentok di level enak ditonton tanpa memberikan puntiran di akhir film seperti SC. Malah pada beberapa adegan akhir EOT, saya mulai mengantuk dan berpikir kapan ya film ini berakhir. Sudah begitu, ending-nya benar-benar gaya Hollywood.

Manis.

Sampai-sampai saya khawatir terkena diabetes.

Jadi bagi saya, EOT tidak penting.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s