Oculus (2013)

Oculus

Fenomena supranatural bisa menjadi momok menakutkan bagi sebagian orang. Namun ketika fenomena ini mengaburkan batas antara khayalan dan kenyataan, unsur menakutkannya menjadi kuadrat.

Kaylie Russell (Karen Gillan) yang berusia 23 tahun, membujuk adik laki-lakinya, Tim (Brenton Thwaites) untuk merekonstruksi kejadian horor yang menimpa keluarga mereka 10 tahun yang lalu. Kaylie bersikeras bahwa Tim, yang baru saja dibebaskan dari sebuah institusi kejiwaan, tidak bersalah sama sekali dan waktu itu sedang berada dalam pengaruh kekuatan jahat.

Dalam kasus ini, si kekuatan jahat berwujud sebentuk cermin dinding antik yang berumur ratusan tahun. Kaylie yang telah melakukan riset, menemukan bahwa si cermin telah mengambil korban 45 orang. Itu sebatas yang ia bisa telusuri. Bisa jadi ada kasus-kasus sebelumnya yang tidak sempat tercatat.

Atas dasar ini, Kaylie mengadakan eksperimen dan menantang si cermin untuk menunjukkan kekuatan jahatnya. Dari sini, kita sebagai penonton pasti sadar kalau eksperimen ini tidak akan berjalan mulus.

Yang saya suka dari Oculus yaitu gaya penceritaannya yang maju mundur antara kejadian saat ini dengan 10 tahun yang lalu. Editingnya enak dilihat. Yang lebih keren lagi adalah adegan masa sekarang dan masa lalu yang saling menjalin dan akhirnya berkelindan menjadi satu menuju adegan klimaks yang mengejutkan.

Oculus lumayan mengaduk logika penonton. Saya bertanya-tanya, apakah ini nyata atau tidak? Apakah setan memang menjelma secara fisik atau hanya buah dari imajinasi manusia? Asli, film ini mengacaukan pikiran saya.

Oh ya, Oculus pun masih memberikan ruang leluasa bagi adegan-adegan penggedor jantung. Jadi jangan khawatir, banyak kok momen jejeritan dan mungkin juga sesekali berusaha hanya menonton ke arah layar bioskop lewat sela-sela jari tangan.

Terakhir, setelah menonton Oculus, saya browsing nama sang sutradara, Mike Flanagan. Ternyata saya sudah pernah menonton karya sebelumnya di ajang iNAFFF 2011 yang berjudul Absentia (2011). Film ini juga mengesankan buat saya. Alurnya pelan dalam membangun suasana horor yang atmosferik. Sayang, saya tidak sempat menulisnya dalam artikel tersendiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s