Took Kae Rak Pang Mak a.k.a. Gecko Loves Pang Very Much a.k.a. Chiang Khan Story (2014)

Took Kae

Apakah Too Kae sekedar Cinema Paradiso versi Thai? Ataukah ia menyesap saripati hura-hura Saturday Night Fever? Sepertinya sih enggak. Ini lebih dari itu. Sutradara Yuthlert Sippapak merekonstruksi kepingan-kepingan memori masa kecil dan membingkainya menjadi sebuah kisah unik dengan konsep ada film dalam sebuah film.

Pada dekade tahun 70an di kampung Chiang Khan, seorang anak laki-laki kecil kurus bernama Took Kae selalu menjadi bulan-bulanan teman sekelasnya karena namanya yang memang berarti Tokek. Dia tidak pernah mengenal ayahnya. Ibunya pun meninggalkannya ketika ia masih bayi. Sang ibu yang tidak menghendaki kehadirannya, memberi nama Took Kae, sebagai penggambaran terhadap sesuatu yang tidak disukainya.

Orang terdekat Too Kae saat itu hanyalah sang nenek yang mengasuhnya sejak kecil dan Pang, seorang gadis cilik imut teman sekelasnya sekaligus anak majikan di mana sang nenek bekerja sebagai asisten rumah tangga.

Persahabatan Took Kae dan Pang bagai kepompong, eh… maksudnya sangat erat. Mereka sering membantu melukis ilustrasi untuk poster film di bioskop kampung Chiang Khan. Mereka juga pernah bersama-sama mengumpulkan botol bekas agar dapat membeli pistol-pistolan. Sampai suatu hari mereka harus berpisah karena keluarga Pang meninggalkan kampung Chiang Khan menuju Bangkok.

Di akhir masa remaja, mereka bersua kembali. Sayangnya, Pang (Chontida Asavahame) tidak mengenali Took Kae (Jirayu La-Ongmanee). Reuni mereka tidak berjalan mulus yang diwarnai oleh kesalahpahaman. Pang yang akan melanjutkan kuliah ke Amerika Serikat, sedang merasa galau karena masalah keluarga. Sedangkan Took Kae adalah anak muda yang berjuang untuk menyutradarai film pertamanya.

Setelah melalui serangkaian kejadian yang menggemaskan, bisa ditebak akhir kisah ini berbuah manis. Yang keren dari film ini adalah penggabungan antara kisah masa lalu dengan hikayat pop art. Misalnya, film-film lokal Thai yang mengandung unsur plesetan yang digabungkan dengan kearifan lokal. Tilik saja judulnya, “3001: Ghost Odyssey“. Atau judul lainnya, “Hanuman vs. 7 Ultramen“. Ini sekaligus memotret kejayaan bioskop-bioskop kampung pada dekade 70an yang mulai surut pada dekade selanjutnya. Budaya disko pun hadir lengkap dengan musik pengiring ajojing. Lalu ada View-Master. Karena masuk dalam kategori barang mewah, cara menikmati View-Master adalah lewat gerobak persewaan yang diusung oleh seorang paman tua. Kalau batas waktu sewa yang hanya beberapa menit itu telah habis, maka paman tua akan membunyikan klakson isyarat tanda berhenti pemakaian.

Kemudian tentu saja soundtracks keren yang mengisi film ini. Pemilihan musiknya sangat cermat. Semuanya dirancang sebagai pembentuk atmosfir film. Yang terakhir pemilihan aktor dan aktrisnya. Semuanya berakting all-out. Mulai dari teman-teman gemuk yang sering mem-bully Took Kae, sampai paman produser cabul yang sok tahu. Suka banget sama aktor dan aktris ciliknya. Aktingnya tuh natural banget. Trus ada 1 adegan yang juara, sewaktu Took Kae cilik curhat sama neneknya. Adegan itu menyentuh banget. Bikin mbrebes mili.

Took Kae tiket

Note:

Saya menonton film ini bulan September 2014 di sebuah bioskop di Bangkok dalam rangka kunjungan perdana ke kota ini. Moga film bagus ini diputar juga di Indonesia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s