Di Balik 98 (2014)

Di Balik 98

Kamu ada di mana tahun 1998? Masih kecil, sudah sekolah/kuliah, atau malah belum lahir? Di manapun posisi kamu saat itu, film Di Balik 98 berusaha untuk memberi gambaran secara garis besar kondisi saat itu. Sebagai pengingat atau informasi bagi yang belum tahu.

Berhasil ga? Kalau saya bilang sih film panjang perdana Lukman Sardi ini berhasil mencapai tujuannya. Bahwa seharusnya ada sumber dalam bentuk narasi film untuk merujuk suatu peristiwa tertentu. Ya, tentunya ada kehadiran beberapa karakter fiksi untuk memperkuat efek dramatisasi.

Walaupun tidak menyebut diri sebagai film sejarah, yang menonjol dari Di Balik 98 ini adalah terlihatnya keseriusan tinggi dalam menggarap set. Entah itu lokasi di Gedung MPR/DPR, markas tentara, lapangan sekitar Monas, bahkan Istana Negara. Hmmm… kalau Istana Negara pasti shooting-nya di Istana Bogor ya?

Lalu properti dalam bentuk kendaraan baja tentara lengkap dengan seragam, senjata, sampai tenda yang sangat meyakinkan. Itu bagaimana cara memperoleh izin penggunaannya?

OK, belum selesai sampai di sini. Properti-properti kecil pun diperhatikan. Di kediaman alm. Soeharto di Cendana, di atas bufet terpajang beberapa foto beliau bersama keluarga. Foto-foto tersebut adalah foto aktor pemeran alm. Soeharto (Amoroso Katamsi), beserta pemeran alm. Tien Soeharto, beserta pemeran semua anak-anak beliau. Bayangkan, tim produksi bela-belain membuat sesi foto khusus demi deretan foto yang hanya di-shoot sekian detik. Luar biasa! Salut banget sama detail Di Balik 98.

Sekarang ngomongin alur utama cerita yang terbagi 3. Ada Rahmat (Teuku Rifku Wikana) dan anak laki-lakinya (Bima Azriel) sebagai keluarga pemulung yang mewakili kaum papa. Lalu ada Diana (Chelsea Islan), seorang mahasiswi sekaligus aktivis demo yang tinggal bersama kakak perempuannya yang sedang hamil, Salma (Ririn Ekawati) beserta suaminya yang seorang tentara, Letnan Dua Bagus (Donny Alamsyah). Yang terakhir adalah keluarga Daniel (Boy William), pacar Diana yang juga aktivis demo, yang hadir sebagai representasi warga keturunan Tiongkok.

Yang terjadi adalah penuturan yang kurang fokus. Misalnya, apa yang terjadi pada Rahmat? Trus, perubahan sikap Diana kepada Bagus yang terkesan mendadak. Ini ditambah dengan cerita dari sisi alm. Soeharto. Iya, ngerti sih maksudnya film ini ingin mencakup semua sisi. Tapi hasilnya malah jadi terlihat terburu-buru. Seandainya jumlah karakter utama lebih sedikit, pasti pendalaman kisahnya bisa lebih cakep. Karena latar belakang tahun 1998 itu sendiri sudah menyita jatah durasi yang tidak sebentar.

Secara keseluruhan, Di Balik 98 merupakan debut mantap dari Lukman Sardi. Memang ada selentingan yang beredar seputar sumber pendanaan film ini dan menganggap fakta yang ditampilkan kurang obyektif. Namun film dengan latar belakang sejarah seperti “Pengkhianatan G30S/PKI” (1984) atau “Janur Kuning” (1979) pun sampai sekarang bisa diperdebatkan validitasnya.

Sayang kan ada film yang digarap pol tapi ga ditonton? Pintar-pintar saja kita sebagai penonton untuk mem-filter isi filmnya.

Catatan tambahan: favorit saya di film ini adalah akting Agus Kuncoro sebagai B.J. Habibie. Walaupun secara fisik tidak mirip, namun gesture, mimik, dan cara bicaranya sudah plek ketiplek!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s