Tuyul Part 1 (2015)

Tuyul Part 1

Sontak langsung suka ketika Renee Pictures meluncurkan poster Tuyul Part 1 yang menampilkan sesosok makhluk berbadan kecil dengan kepala seperti balon yang menggelembung peyang, mata hitam serta telinga yang bersudut lancip. Desain posternya ‘bersih’ dengan font judul film yang menyatu senafas dengan posternya. Menakutkan sekaligus memantik penasaran.

Kisah bermula saat pasangan suami isteri, Mia (Dinda Kanya Dewi) yang sedang mengandung 7 bulan dan Daniel (Gandhi Fernando), menempati sebuah rumah tua di daerah Puncak milik mendiang ibu Mia. Sedari kecil, Mia tidak menyukai hawa menyeramkan rumah tersebut yang membuatnya hengkang untuk tinggal di Jakarta ketika berusia 16 tahun.

Benar saja, belum ada 5 menit mereka menginjakkan kaki di rumah tersebut, sudah ada suara-suara berkerenyit dari lantai atas. Peristiwa-peristiwa menakutkan semakin sering frekuensinya setelah Daniel secara tidak sengaja menemukan sebuah botol yang disumbat gabus di loteng rumah. Mia yang tidak pernah meninggalkan rumah, menjadi bulan-bulanan sosok gaib tersebut. Tambah runyam ketika urusan pekerjaan Daniel kerap memicu pertengkaran di antara mereka.

Kabut misteri semakin menebal dengan kehadiran Bi Inah (Inggrid Widjanarko) yang berprofesi sebagai asisten rumah tangga. Bi Inah nampaknya tahu mengenai rumah tersebut namun cenderung mengunci rapat mulutnya. Belum cukup sampai di sini, ternyata tetangga mereka, Karina (Citra Prima), adalah seorang perempuan nyentrik penyendiri yang gemar melakukan ritual mistik.

Yang paling menonjol dari Tuyul Part 1 yaitu alirannya horor murni. Tanpa embel-embel seks, komedi atau adegan laga. Bisa disebut sebagai horor psikologis atau horor suasana yang mengandalkan 1 atau lebih elemen utama untuk menciptakan ketakutan di mata penonton. Dalam hal ini, rumah tingkat berbahan dominan kayu yang menjadi elemen utama. Ini digenapi oleh berbagai perabotan yang tersebar di dalam rumah. Yang menarik, Billy Christian, sang sutradara, berujar bahwa kondisi rumah ini kosong melompong dan tim produksi harus memboyong perabotan sebanyak 5 truk dari Jakarta.

Selain setting rumah beserta isinya, ada 1 hal lagi yang patut diacungi jempol. Tata musik garapan Andhika Triyadi efektif menjadi penggedor jantung di setiap momen film ini. Sebenarnya tidak ada trik baru dari tata musiknya. Misalnya, momen ketika terlihat siluet wajah di kaca jendela dan langsung terdengar musik yang mengagetkan. Walaupun klise namun karena digarap rapi, hasilnya serasi dengan irama film.

Dari departemen casting pun layak dipuji. Sepanjang durasi Tuyul Part 1, hanya memiliki 4 karakter utama. Karena itu performa mereka akan sangat terlihat. Dinda sebagai pemeran utama, berhasil menampilkan Mia yang secara fisik sedang mengandung, namun tetap berani dan tidak cengeng. Kritik saya hanya satu, Karina sebagai seorang penganut klenik digambarkan secara berlebihan. Ini justru menimbulkan kecurigaan. Siapapun yang sering menikmati film horor akan menebak bahwa Karina sejatinya bukan antagonis. Harapan saya, di film selanjutnya Karina akan mengalami pengembangan karakter.

Ngomong-ngomong soal film selanjutnya alias sekuel, saya terkejut sekaligus senang bahwa Tuyul diplot sebagai film trilogi. Belum ada informasi mengenai tanggal rilis film-film kelanjutannya. Moga dalam waktu dekat. Rasanya belum pernah seantusias ini menunggu sekuel film Indonesia. Horor pula!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s